Kulonprogonews's

Beranda » Hankam » Banjir Masih Ancam Kota Yogyakarta

Banjir Masih Ancam Kota Yogyakarta

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya

Follow Kulonprogonews's on WordPress.com

*51 Titik Genangan Belum Tertangani

YOGYAKARTA – Musibah bencana banjir masih akan mengancam kota Yogyakarta, pada musim penghujan ini. Setidanya ada 51 titik genangan yang belum bisa tertangani. Keterbatasan anggaran menjadi kendala utama penanganan masalah drainase pemukiman.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pemukiman dan Sumber daya Mineral (DPUP dan ESDM) Rani Sjamsinarsi, menuturkan titik-titik genangan air ini tersebar di beberapa wilayah. Masalah ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu dekat. Selain pemukiman yang padat tidak adanya perencanaan pembuangan drainase yang baik.

” lokasinya menyebar di beberapa tempat,” jelas Rani.

Menurutnya, pada 2011 kemarin, pihaknya baru menangani dua lokasi genangan. Satu program dilaksanakan secara menyeluruh di sekitar Ambarukmo Plasa. Sedangkan di wilayah Kalibayem, disinergiskan dengan saluran drainase jembatan. Selama ini dua wilayah ini kerap menjadi langganan banjir.

Untuk wilayah lain, saat ini belum ada estimasi anggaran. Sebab anggaran yang tersedia cukup terbatas dan tidak mungkin bisa mengampu semua titik. Kemungkinan penanganan akan dilaksanakan secara bertahap dengan melakukan prioritas kegiatan.

”Tahun ini belum bisa, anggarannya dari mana,” tambah Rani.

Tinginya angka genangan air dan banjir di Kota Yogyakarta, tidak lepas dari proses perencanaan pembangunan. Selama ini tidak banyak regulasi yang disusun untuk mengatur masalah drainase pemukiman. Air buangan hujan dan dari rumah tangga asal dialirkan tanpa melihat alur yang tepat. Kondisi inilah yang menambah parah banjir di Kota Yogyakarta.

Kedepan dalam mengeluarkan ijin perumahan akan dibuat lebih selektif. Kawasan pemukiman juga harus memperhatikan saluran drainase air hujan. Sesuai arahan Sultan, imbuh Rani, kawasan di sekitar Ngaglik, Turi sampai dengan Pakem akan dijadikan sebagai kawasan resapan air. Sebab selama ini air hujan akan langsung turun ke bawah tanpa tertahan. Untuk itulah perlu adanya sumur resapan, biopori dan reboisasi.

”Kalau dulu ada hujan air meresap sendiri. Sekarang banyak beton dan aspal, air tidak bisa meresap,”pungkasnya.

Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono mengatakan banjir menjadi masalah yang cukup komplek di DIY. Kejadian di Ngrenak Kidul, Sleman merupakan dampakd ari penutupan pintu air di Sungai Konteng. Namun begitu pintu air dibuka air akan mengalir langsung ke bawah dan menyebabkan banjir. Akibatnya warga di bantara sungai winongo di Tirtonirmolo Bantul yang terkena imbasnya.

Menurut Sultan selisih ketinggian antara Sleman sampai dengan Bantul mencapai 200 meter. Kondisi inilah yang membuat aliran air bergerak cukup cepat. Untuk itulah perlu adanya pembuatan resapan dan penahan laju aliran air.

”Perlu penanganan terpadu, agar air dari Sleman tidak mengalir ke kota dan bantul seluruhnya,” jelas Sultan.

Pengerukan sedimentasi di aliran sungai yang berhulu di Merapi masih diperlukan. Pengerukan merupakan salah satu langkah alternatif mengatasi banjir di bawah. Selain itu juga perlu adanya normalisasi aliran sungai di beberapa titik.

”Untuk penanganan darurat ada bronjong yang kita siapkan,” tutur Sultan. Hari ini rencananya Sultan akan meresmikan huntap di sekitar Gendol dan melanjutkan pengecekan aliran sungai. (fiz)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: