Kulonprogonews's

Beranda » Budaya » Kemiskinan di DIY, Menarik Pusat

Kemiskinan di DIY, Menarik Pusat

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya

Follow Kulonprogonews's on WordPress.com

YOGYAKARTA – Pemerintah pusat menilai kemiskinan di Provinsi DIY, cukup unik. Sesuai hasil survey, warga miskin mencapai sekitar 350 ribu jiwa atau sekitar 15,7% warga DIY. Meskipun demikian, banyak warga yang tingkat kesejahteraannya cukup tinggi.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (bappeda) DIY Tavip Agus Rayanto, mengatakan angka kemiskinan di DIY diatas kemiskinan nasional. DI DIY prosentase warga miskin mencapai 15,7%. Padahal angka nasional hanya sekitar 13% saja.

Tingginya angka kemiskinan ini tidak lepas dari hasil survey yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Survey ini sendiri sudah ditentukan dengan beberapa indikator yang diputuskan oleh pusat. Hasil inilah yang kemudian menjadi pedoman angka kemiskinan.

Namun, di balik semua ini, banyak warga yang cukup sejahtera. Tidak sedikit warga memilih tinggal di dalam rumah dengan berlantaikan tanah. Jika tidak tetap memilih tinggal di dalam rumah berdinding anyaman bambu (gedhek). Sebagai pilihan, mereka memilih memelihara sapi hingga lebih dari empat ekor.

“Inilah keunikan kita, meskipun miskin warga tetap sejahtera,” jelas Tavip.

Selain itu, tingkat upah minimum provinsi (UMP) di DIY hanya sekitar Rp892.660. Angka ini jauh dibawah UMP DKI yang mencapai Rp1,5juta. Namun dengan pendapatan minim warga masih bisa makan nasi. Tidak sedikit hanya dengan uang sedikit, warga bisa membeli makan.

Atas keunikan inilah, pusat tertarik untuk melakukan penelitian di DIY. Penelitian diarahkan untuk merumuskan kembali indikator kesejahteraan rakyat (ikrar). DIY dianggap cukup unik dan bisa memberikan masukan dalam menentukan indikator.

”Beberapa lalu, kita sudah dipanggil kepusat,”jelas Tavip.

Untuk mengatasi kemiskinan, pada 2012 dianggarkan dana Rp120 miliar. Selain itu sejumlah SKPD juga memiliki program pemberdayaan untuk memberdayakan warga miskin.

Sementara itu Pemkab Kulonprogo telah melounching album kemiskinan beberapa hari lalu. Hasil survey Bappeda ada sekitar 34.089 kepala keluarga dengan 111.672 jiwa atau sekitar 24,3%. Warga miskin ini juga akan dilengkapi data by name by adress.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengatakan album kemiskinan ini akan menjadi tolak ukur keberhasilannya sebagai bupati. Angka ini jugaakan menjadi dasar keberhasilan pembangunan yang akan dilaksanakan setiap tahun. Pemkab sendiri akan melakukan gerakan popular untuk mengetaskan kemiskinan. Melalui layanan pendidikan, kesehatan dan layananlain, diarahkan untuk meningkatkan kualitas masyarakat.

“Ini akan menjadi tolak ukur keberhasilan saya dalam membangun,” jelas bupati yang empat bulan menjabat.

Hasto sendiri juga akan komitmen terhadap warga miskin. Dokter spesialis kandungan ini telah berjanji yang dikenal dengan ”tri tedo”. Tidak akan makan nasi sebelum warga miskin hilang, tidak akan makan buah import dan tidak akan minum manis selain dari gula Kulonprogo.

”Semua layanan di puskesmas kita gratiskan,” jelasnya.

Pada lounching kemiskinan ini, juga berhasil mengumpulkan dana lebih dari Rp 500 juta dan 1.500 US dolar. Dana ini akan digunakan untuk pemberdayaan masyarakat.(fiz)



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: