Kulonprogonews's

Beranda » Ekonomi » Buta Tak Halangi Parjan Menderes Nira Kelapa

Buta Tak Halangi Parjan Menderes Nira Kelapa

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya

Follow Kulonprogonews's on WordPress.com

KULONPROGO – Buta tidak membuat pria berusia 41 tahun ini menyembunyikan diri dari terangnya dunia. Dengan keterbatasan ini, Parjan justru memperlihatkan kelihaian dalam menderes atau memanjat pohon-pohon kelapa di kebun miliknya. 5 tahun dalam kondisi buta tetap berupaya menghidupi keluarga dari gula merah.

Jalan setapak bebatuan dan terjal menjadi satu-satunya akses jalan menuju kebun kelapa milik Parjan, warga Plampang 3 Desa Kalirejo kecamatan Kokap. Merambat di kegelapan tidak membuat nyalinya ciut untuk terus memanjat pohon kelapa di kebunnya, hanya dalam beberapa menit saja, parjan sudah berada di pucuk pohon kelapa.

Parjan mengalami kebutaan sejak 5 tahun lalu akibat serpihan kayu mengenai matanya saat bekerja di pemotongan kayu. Terbentur masalah biaya pengobatan, keluhan penglihatan dibiarkan saja hingga akhirnya sama sekali tidak dapat menglihat. Kini, Parjan hanya dapat membedakan terang dan gelapnya hari tanpa mengetahui siapa atau apa yang ada dihadapannya.

Mengandalkan kebiasaan saat masih dapat melihat, Parjan menapaki jalan tanah, memanjat pohon kelapa, membersihkan kotoran dedaunan, hingga turun kembali membawa nira kelapa sedapan semalam. Dalam sehari, Parjan mampu memanjat 40 pohon, 20 batang di pagi hari sedangkan 20 pohon lagi pada sore harinya.

“Buta tak menghalangi saya tetap memanjat pohon kelapa setiap hari apalagi memiliki tanggung jawab untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya,” ujarnya.  satu-satunya halangan dalam memancat pohon adalah silaunya sinar matahari dan licinnya pohon kelapa jika turun hujan.

Menurut Kamsih istri Parjan, tak tega melihat suaminya tiap hari memanjat dan mengambil nira dari pucuk pohon kelapa. “Keterbatasan pendidikan sulit dapat mencari pekerjaan akhirnya harus berada di dapur membantu suaminya membuat gula merah dari nira kelapa,” jelasnya.

Dalam sehari, Parjan hanya menghasilkan 3 kilogram gula merah (aren), sedangkan harga jualnya hanya 8.500 rupiah setiap kilogramnya. Keterbatasan fisik dan keterbelakangan ekonomi tidak membuat Parjan dan Kamsih pasrah pada nasib, namun terus berjuang memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, yaitu Didi Hari Sandi, Riski Dwi Safitri, dan Riana Deni Safitri. (ntk)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: