Kulonprogonews's

Beranda » Ekonomi » Kulonprogo Miliki Tiga Alternatif Lokasi Bandara

Kulonprogo Miliki Tiga Alternatif Lokasi Bandara

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya

Follow Kulonprogonews's on WordPress.com

KULONPROGO – Pemerintah Kabupaten (pemkab) Kulonprogo, menyiapkan tiga lokasi alternatif pembangunan bandara. Semuanya berada di kawasan pesisir selatan Kulonprogo. Hasil penilaian dan kajian yang akan dilakukan oleh Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) Universitas Gadjah Mada (UGM), akan memilih satu dari tiga okasi alternatif.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kulonprogo Budi wibowo mengatakan tiga lokasi ini berada di barat Sungai Serang di wilayah Kecamatan Temon, timur pelabuhan diwilayah Kecamatan Panjatan di barat Sungai Progo, diwilayah kecamatan Galur. Ketika lokasi memiliki karakter, keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri. Semuanya juga memiliki keunggulan yang menjadi nilai tambah tersendiri.

”Lokai pastinya menunggu studi, tetapi kita siapkan tiga lokasi,” jelas Sekda.

Menurutnya, dimanapun lokasi yang dipilih, Pemkab Kulonprogo siap mendukung dan memfasilitasi pembangunan bandara. Semuanya layak untuk dijadikan sebagai kawasan bandara internasional. Hampir semua lokasi, semuanya mengandalkan lahan milik Puro Pakualaman (PA Ground) dan sebagain tanah penduduk.

Pemkab Kulonprogo sendiri telah mencadangkan pasokan untuk kebutuhan air bersih. Ada dua buah sumber mata air yang bisa diandalkan, yakni dari Waduk Sermod an dari Sungai Progo. Keduanya memiliki potensi debit air yang tinggi dan masih jauh dari kebutuhan saat ini.

”Permasalahan nanti tinggal power plant (pasokan energi). Mau diambilkan dari mana,” tuturnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (bappeda) Langgeng Agus Basuki, mengatakan panjang lintasan bandara ini mencapai 5,4 kilometer. Perencanaan yang ada hanya 3,6 kilometer. Selebihnya akan dijadikan lokasi untuk sarana pendukung seperti lampu untuk landasan pacu. Sedangkan lebarnya mencapai 800 meter sampai 900 meter.

Melihat asumsi ini, akan ada lahan milik penduduk yang akan tergerus. Sedangkan lahan utamanya, menggunakan Tanah Pakualam. Bagaimana teknis proses ganti rugi, menjadi kewenangan dari Angkasa Pura.

”Begitu lokasi dipastikan, akan langsung diikuti dengan penyusunan FS,” jelas Langgeng.

Melihat proses dan kondisi bandara Adi Sutjipto, Langgeng optimis pada 2012 pertengahan, sudah mulai tahapan konstruksi fisik. Semuanya juga akan dikoordinasikan antara Angkasa Pura bersama dengan investor asal India JVK dalam hal pengelolaan dan opersional.

Sementara itu, General Manager PT Jogja Magasa Iron (JMI) Mochsen Alhamed, mengatakan kawasan pesisir selatan Kulonprogo merupakan wilayahnya dalam kontrak karya penambangan pasir besi. PT JMI sendiri tidak akan mempermasalahkan tumpang tindihnya kepentingan pembangunan di wilayahnya.

”JMI kan investor, itu ranahnya pemerintah,” ujar Mochsen.

Mochsen sendiri belum bisa memastikan kapan pihaknya bisa melakukan penambangan. Saat ini konsultan yang ditunjuk oleh PT JMI sedang menyusun dokumen amdal. Dokumen amdal ini akan dinilai oleh komisi untuk menentukan layak dan tidaknya penambangan.

”JMI bekerja sesuai prosedur dan tahapan, tidak ada target waktu,” tegasnya. (fiz)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: