Kulonprogonews's

Beranda » Ekonomi » Pemkab Kulonprogo Gelar Nyadran Agung

Pemkab Kulonprogo Gelar Nyadran Agung

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya

Follow Kulonprogonews's on WordPress.com

Nyadran Agung : Lestarikan tradisi Leluhur

KULONPROGO – Pemerintah Kabupaten (pemkab) Kulonprogo setiap tahun menggelar tradisi ”Nyadran Agung”. Tradisi ini dilaksanakan pada bulan Syaban atau dikenal bulan Ruwah oleh masyarakat Jawa. Tradisi yang banyak diilhami kearifan lokal ini, diharapkan bisa menjadi momentum untuk mengoreksi kehidupan yang sudah dijalani.

Nyadran, merupakan salah satu tradisi yang telah ada dalam kehidupan maysarakat Jawa sejak masa lampau. Nyadran dilakukan oleh semua lapisan masyarakat dengan membuat kue apem. Kue ini terbuat dari tepung beras yang diberikan pemanis dari gula kelapa. Sebagai pelengkapnya, disertakan juga nasi ketan, dan makanan kolak. Tiga makanan ini biasanya dibuat oleh masing-masing rumah. Setiap kepala keluarga yang membuat akan memberikan kepada tetangga dan kerabatnya.

Pelaksanaan nyadran agung yang dilaksanakan pemkab Kulonprogo kemarin berbeda dengan yang dilakukan maysarakat. Pemerintah membuat tiga buah gunungan. Yaitu, gunungan apem, gunungan nasi tumpeng berikut ayam ingkung dan gunungan buah-buahan. Tiga buah gunungan ini diarak dri Kantor bupati menuju rumah dinas bupati. Di halaman rumah dinas ini seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) hadir. Semua peserta menggunakan pakaian Jawa komplit dengan surjan dan blangkon bagi pria. Sedangkan kaum perempuan menggunakan kebaya.

Usai gunungan tiba, tiga gunungan ini diserahkan oleh Sekda kepada bupati. Sebelumnya, dilakukan pengumpulan air suci dari 12 mata air yang ada di 12 kecamatan di Kulonprogo oleh para camat. Setelah didoakan, tiga gunungan ini diperebutkan kepada warga sekitar. Banyak masyarakat beranggapan, mendapatkan makanan ini akan mmeberikan berkah bagi kehidupannya.

”Ini tradisi harus dilestarikan karena mengingatkan kita akan sejarah masa lalu kita,” jelas bupati Kulonprogo Toyo Santoso Dipo.

Menurutnya, Nyadran Agung merupakan salah satu tradisi yang banyak mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal. Nyadran agung bisa mendekatkan masyarakat untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi. Dari sinilah akan memperkuatkan tali silaturahmi antar masyarakat.

”Karena sebulan lagi saya lengser, mohon tradisi ini tetap dilaksanakan karena banyak nilai kearifan lokal,” tutur Toyo.

Tokoh agama Kyai Abdullah Syarifudin mengatakan, nyadran agung merupakan bagian dari nilai tradisi Islam. Nyadran dilaksanakan pada bulan Syaban (ruwah) untuk menyambut ramadhan. Biasanya momentum ini digunakan untuk melakukan bersih makam leluhur dengan memanjatkan doa. Mengunjungi makam akan menjadi bagian untuk evalusi diri.

“Dengan mengunjungi dan ziarah makam, akan menjadikan kita mengevaluasi diri apa yang sudah kita perbuat,” tutur Abdullah yang kemarin memimpin doa. Kesadaran jika manusia pasti akan mati, diharapkan bisa menjaga perilaku untuk lebih menghormati kepada sesama disamping mendekatkan kepada sang kuasa.

Ketua Dinas Kabudayaan DIY, Djoko Dwiyanto mengatakan tradisi Nyadran Agung bisa dikemas sebagai bagian dari promosi pariwisata. Tradisi ini hanya ada di tanah Jawa, khususnya di Jawa Tengah DIY dan Jawa Timur. Hanya saja setiap wilayah memiliki tata cara yang berbeda.

”Nyadran Agung bisa dikemas menjadi paket wisata yang menaik,” tuturnya.   (fiz)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: