Kulonprogonews's

Beranda » Ekonomi » Melihat Aktivitas Anak-Anak Sekolah Saat Liburan

Melihat Aktivitas Anak-Anak Sekolah Saat Liburan

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya

Follow Kulonprogonews's on WordPress.com

*Ngamen, untuk beli buku dan alat Sekolah

Ngamen : Anak-Anak pentas jathilan menjadi hiburan masyarakat setempat

Liburan sekolah merupakan waktu santai bagi anak-anak sekolah. Mereka bisa libur panjang tanpa harus dibebani dengan belajar. Banyak cara untuk mengisi liburan sekolah ini. Seperti yang dilakukan akan-anak di Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kulonprogo. Mereka memanfaatkan libur untuk ngamen budaya. Hasil dari ngamen ini digunakan untuk membeli buku dan peralatan sekolah lain.

Hidup di desa yang jauh dari keramaian kota, menjadi wacana bagi masyarakat Tuksono. Mayoritas penduduknya menggantungkan hidupnya dengan mengolah lahan atau bertani. Keterbatasan dan kondisi ekonomi, menjadikan mereka lebih giat bekerja. Hampir setiap hari warganya mengisi dengan kegiatan produktif.

Perilaku yang sudah menjadi budaya kerja dan turun temurun ini, nampaknya terpatri dibenak anak-anak usia sekolah. Ketika liburan sekolah, mereka juga memiliki ide kreatif Berangkat dari eksistensi sanggar kesenian ”Kudo Kencono” mereka sepakat untuk ngamen budaya.

Berbekal ketrampilan sebagai penari jathilan, anak-anak usia sekolah ini memberanikan diri minta ijin kepada tokoh budaya. Mereka meminjam perangkat gamelan, pakaian hingga kuda lumping dan topeng. Sedangkan untuk merias wajah dilakukan dengan patungan dan dilakukan sendiri.

”Ide ngamen ini, muncul ketika liburan tiba,” ujar Dimas Febri Saputra, yang baru duduk dibangku SD.

Menurutnya, dari ngamen budaya ini rombongan yang berjumlah belasan anak-anak ini bisa mendapatkan uang hingga Rp 30 ribu seharinya. Uang hasil ngamen setiap harinya dikumpulkan. Rencananya, uang ini akan dibagi dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan saat masuk sekolah. Mulai dari membeli buku, pensil, hingga rautan dan penggaris.

”Kita ingin mandiri tanpa membebani orang tua,” ujarnya polos.

Sebagai bagian dari pelaku seni, Diaz Arvigo,10, cukup memahami karakter teman-teman sebayanya. Ngamen budaya ini diarahkan untuk melestarikan seni dan tradisi lokal. Sebab kesenian jathilan yang ada tidak mungkin bisa bertahan jika tidak ada generasi penerus. Untuk itu, dia mengajak anak-anak untuk ngamen, sembari melestarikan budaya.

”Biar semuanya mau bergabung jadi pemain jathilan,” ujarnya.

Selama ngamen, rombongan ini tidak perah memaksa untuk meminta uang dari warga. Setiap tempat, bisa sepuluh hingga 15 menit untuk tampil. Biasanya usai tampil, warga dengan sukarela memberikan uang yang dimasukkan ke dalam kaleng yang disediakan.

”Paling senang kalau banyak yang kasih uang,”tambahnya.

Salah seorang warga, Ny Aminah mengaku bangga dengan ide kreatif anak-anak. Tanpa ada yang menyuruh dan mengarahkan mereka mencoba mencari uang sendiri. Apalagi mereka cukup paham dengan nilai budaya dan usaha untuk melestarikan seni budaya. Semestinya, ide kreatif ini diarahkan untuk kegiatan yang lebih profesional.

”Jangan sampai ngamen ini menjadi budaya, karena pendidikan lebih penting,”ujarnya. Bekal pendidikan, lebih penting dalam mempersiapkan anak-anak di masa mendatang. Sedangkan memegang uang, justru rentan membuat anak-anak lebih giat belajar. (fiz)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: